Pages

Tampilkan postingan dengan label Penemuan Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penemuan Baru. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

Limnonectes larvaepartus: Scientists Discover Tadpole-Bearing Species of Frog in Indonesia

2 komentar

Limnonectes larvaepartus is unique among frogs in having both internal fertilization and birth of tadpoles. Top: male, left, and female. Bottom: an adult male observed calling while perched on the edge of a small pool 2 m away from a 2 m wide stream; several tadpoles were present in the pool including the two visible within the yellow circle. Image credit: Jimmy McGuire.



Fanged frogs are so-called because of two fang-like projections from the lower jaw that are used in fighting.

They may have evolved into as many as 25 species on Sulawesi, though Limnonectes larvaepartus is only the fourth to be formally described. They range in size from 2 to 900 grams. The newly-described species is in the 5-6 gram range.

“Almost all frogs in the world – more than 6,000 species – have external fertilization, where the male grips the female in amplexus and releases sperm as the eggs are released by the female. But there are lots of weird modifications to this standard mode of mating,” said Dr McGuire, who is the senior author of the paper published in the open-access journal PLoS ONE.

Limnonectes larvaepartus is one of only 10-12 species that has evolved internal fertilization, and of those, it is the only one that gives birth to tadpoles as opposed to froglets or laying fertilized eggs.”

Limnonectes larvaepartus seems to prefer to give birth to tadpoles in small pools or seeps located away from streams, possibly to avoid the heftier fanged frogs hanging out around the stream. There is some evidence the males may also guard the tadpoles.

Dr McGuire first encountered this frog in 1998, the year he began studying the amazing diversity of reptiles and amphibians on Sulawesi, an island east of Borneo and south of the Philippines.

The island is a geographical hodgepodge, having formed from the merger of several islands about 8-10 million years ago.

Sulawesi is an incredible place from the standpoint of species diversity endemic to the island as well as in situ diversification,” Dr McGuire said.

Although many vertebrate species have diversified on Sulawesi after arriving by overwater ‘sweepstakes’ dispersal, most – such as the flying lizards and black-crested macaque monkeys – have speciated in such a way that their geographic ranges are non-overlapping, with their ranges meeting like pieces in a jigsaw puzzle.

“The fanged frogs are special because they appear to represent a virtually unexplored adaptive radiation with many species occurring at the same sites but adapted to occupy distinct ecological niches.”

“We are really interested in understanding how much of Sulawesi’s in situ diversification was initiated on the paleo-islands, or if much or even all of the diversification was postmerger.”

Read More

Senin, 22 Desember 2014

Serangga Terpanjang Kedua di Dunia Ditemukan Di Vietnam

6 komentar
 Insect photo-2


Para peneliti biologi dari Royal Belgian Institute of Natural Sciences baru-baru ini mengumumkan hasil penelitian serangga yang didapat dari pedalaman hutan Vietnam. Serangga raksasa ini ditemukan di Cagar Alam Tay Yen Tu atau 150 km timur laut dari ibukota Vietnam, Hanoi. Saat menemukan spesimen serangga ini, peneliti bekerja dengan menggoyang-goyangkan cabang pohon tempatnya hinggap.


Serangga berbentuk tongkat ini memiliki panjang lebih kurang 60 sentimeter yang membuatnya menjadi serangga berbentuk tongkat terpanjang di dunia yang pernah ditemui. Serangga ini juga menjadi serangga tongkat kedua terbesar yang pernah ditemukan —sebelumnya spesimen serangga tongkat terbesar dilaporkan pernah ditemukan di Kalimantan dengan panjang 56 cm.
Dengan panjang 54 sentimeter ketika kakinya direntangkan, penampilan serangga yang bernama ilmiah Phryganistria heusii yentuensis tersebut lebih mirip ranting pohon daripada tongkat.
Diketahui bahwa serangga ini sangat mahir dalam meniru berbagai bentuk ranting dan dedaunan. Dengan menggerakkan tubuhnya sedemikian rupa, serangga ini bahkan mampu menirukan gerakan ranting pohon yang tertiup angin.


Untuk mengelabui predator, serangga ini melakukan metode pertahanan diri dengan pura-pura mati, ataupun layaknya bunglon: mampu meniru dan mengubah warna tubuhnya serupa dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam bereproduksi, si serangga tongkat dikenal memakan waktu sangat lama untuk berkopulasi, beberapa spesies ini diketahui tetap berpasangan selama berbulan-bulan dan sangat aktif di saat malam.


http://www.mongabay.co.id/2014/12/20/wow-serangga-raksasa-hampir-sepanjang-60-cm-ditemukan-para-peneliti/


Read More

Jumat, 19 Desember 2014

Spiny Boki Meko : Tikus Genus Baru dari Indonesia

3 komentar



Ini adalah bukti betapa kaya keanekaragaman hayati nusantara: tikus jenis baru ditemukan di wilayah Indonesia. Ia punya keunikan, di antaranya memiliki bulu tajam dan ujung ekor berwarna putih.
Hewan pengerat yang disebut Spiny Boki Meko tersebut ditemukan di hutan di pegunungan Halmahera, Maluku yang terpencil. Di kepulauan di mana Alfred Russel Wallace menulis hasil penelitiannya kepada Charles Darwin -- menguraikan teori evolusinya.
Keberadaan tikus itu diketahui oleh tim gabungan dari tim Universitas Kopenhagen, Denmark dan Musem Zoologi Bogor.
Awalnya, tim ilmuwan menggunakan umpan kelapa bakar dan selai kacang yang ditaruh di batang pohon dan liang. Jebakan itu menarik sejumlah binatang keluar dari sarang mereka. Di antaranya adalah seekor tikus yang tak pernah dijumpai sebelumnya, dengan bulu abu-abu kecoklatan yang kasar di punggungnya dan perut yang berwarna abu-abu keputihan -- Spiny Boki Meko.
Berdasarkan analisa DNA dan fisik tikus tersebut -- termasuk tengkorak dan gigi, para ilmuwan menyimpulkan, mereka tak sekadar menemukan spesies anyar, tapi genus atau jenis yang sama sekali baru. Mereka memberi hewan itu nama resmi Halmaheramys bokimekot, yang diambil dari nama Boki Mekot, daerah pegunungan di dekatnya yang terancam akibat pertambangan dan penggundulan hutan. Spiny Boki Meko adalah nama 'populer'-nya.
Tak banyak yang diketahui soal perilakunya, namun ilmuwan menduga tikus itu adalah omnivora, berdasarkan temuan sisa tumbuhan dan serangga di perut mereka.

http://news.liputan6.com/read/698882/pertama-di-dunia-tikus-unik-genus-baru-ditemukan-di-indonesia


Read More
 

Copyright © 2014. Biology - All Rights Reserved :: Designed By Awanbook | Powered by Blogger